“Dan pemenang workshop
bulutangkis 2016 adalah kelompok LIMA BELAS.”
Aku menjerit kemudian berhadap-hadapan dengan anggota
kelompok 15. Seriusan? Ini beneran? Begitu tanyaku dalam hati. Namun tak perlu
pikir panjang, apakah ini serius atau becanda, Mas David sudah menggundang
kelompok 15 untuk ke depan. Bergabung dengan runner up yang sudah berbaris.
Tanpa ba-bi-bu yang kebanyakan, terlebih dahulu kelompok
runner up diberikan plakat berupa pigura yang segede tivi, voucer, dan
marchendise. Usai runner up berfoto-foto ria, giliran kelompok 15 yang tampil
ke depan. Suasana di ruangan pecah dengan tepuk tangan menyambut sang pemenang.
Aku cengar-cengir menyaksikan semua itu, antara percaya dan tidak. Ini beneran
nggak mimpi kan?
Kami pun menerima semua hadiah, berfoto, dan kemudian
salaman dengan semua orang yang menyambut kami. Benar-benar hari yang
melelahkan, tetapi indah. Acara pun ditutup dengan foto bersama setelah itu
pulang. Ke semarang.
Ketidakpastian-ketidakpastian
yang Mendebarkan
Kami kembali ke Hotel Santika Semarang. Di sana masih
juga foto-foto. Sampai akhirnya perpisahan itu pun terjadi. Aku berdiskusi
dengan kelompokku terlebih dahulu. Tanpa banyak perdebatan akhirnya diputuskan
plakat pigura diberikan kepadaku. Kami pun pulang ke “rumah” masing-masing.
Satu minggu. Dua minggu. Tidak ada kabar lagi mengenai
kelanjutan pemenang workshop. Akhirnya, satu e-mail yang memberikan ketentuan
magang di BOLA untuk pemenang workshop pun datang. Di e-mail tersebut diberikan
penjelasan prosedur magang yang dibagi menjadi dua: magang di Jakarta dan Semarang. Kelompok 15
harus menentukan mau magang di mana. Dan semua anggota harus sepakat untuk
memilih satu tempat.
Terjadi perdebatan-perdebatan panjang saat kami harus
menentukan tempat magang. Dua tempat tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan
masing-masing. Akhirnya jangka waktu selama satu minggu, kami belum memberikan
keputusan. Pihak BOLA memberikan tambahan waktu untuk berpikir. Kami pun mulai
berdebat lagi.
Ada banyak faktor yang menjadi pertimbangan. Bagiku
sendiri, mau magang di Semarang atau Jakarta, nggak masalah. Aku udah nggak
punya tanggung jawab kuliah. Tetapi, ego ku menginginkan untuk magang di
Jakarta. Bagiku itu adalah kesempatan emas karena magang di Jakarta menjanjikan
sebuah pengalaman yang tentunya, luar biasa. Tetapi, karena di sini aku sebagi
ketua kelompok dan sebaik mungkin untuk netral dan tidak egois. Sebagian
anggota kelompok masih berstatus sebagai mahasiswa aktif. Jika magang di
Jakarta, maka paling tidak mereka harus bolos kuliah hampir satu bulan lebih
tetapi pengalaman banyak. Sedangkan jika magang di Semarang, bolosnya tidak
banyak tetapi pengalaman sedikit.
Akhirnya….
Kelompok 15 memilih magang
di Jakarta. Demi obsesi bersama.
Ketidakpastian-ketidakpastian semakin mendebarkan ketika
salah satu anggota kami Sigit, mengatakan tidak bisa ikut. Bahaya! Tidak ikut
satu, tidak ikut semua. Akhirnya demi kemaslahatan kelompok aku menghubungi
pihak BOLA dan mengatakan semua masalah kelompok 15. Dua minggu lamanya kami
menunggu balasan BOLA, dan sampailah pada keputusan.
Masing-masing anggota kelompok diperbolehkan untuk
memilih tempat magangnya. YES! Batinku. Keputusan final akhirnya diberikan
untuk setiap orang. Setelah tiga hari, akhirnya kami mengonfirmasi. Aku, sudah
pasti ke Jakarta. Elsa ke Jakarta. Azim dan Erlingga di Semarang. Dan Sigit
masih bersikukuh untuk tidak ikut.
Maka persiapan demi persiapan pun dilakukan demi magang
di Jakarta. Pihak BOLA mengatakan magang akan diselenggarakan awal November
2016. Waktu yang sangat tepat, pikirku. Karena aku wisuda 25 Oktober, berarti
selama magang aku tidak memiliki tanggungan bolos.
Oktober pun berlalu. November yang cerah pun datang. Hei,
Jakarta! I’am coming.
Bersambung. Klik di sini untuk membaca cerita selanjutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar