Sabtu, 04 Maret 2017

Catatan Magang di Tabloid BOLA Kompas Gramedia: Part 3

Kru Magang Tabloid Bola dari Depan: Elsa, Susi, dan Rian 

Keberangkatan  
Tanggal 31 Oktober, aku dan Elsa berangkat ke Jakarta menggunakan kereta api Brantas yang harganya lumayan murah. Rp. 84.000. Kami berangkat malam hari.
Sebelum berangkat, aku pamitan ke anak-anak kos Nabila. Kalau mengingat momen-momen pamitan, entah itu bareng temen jurusan, BP2M, dan kos Nabila, rasanya itu:
aku pengin nangis lagi (saat menuliskan ini, aku bener-bener rindu kalian semua).

Aku menyewa taksi dari Unnes ke Stasiun Tawang. Sepanjang perjalanan, awalnya aku ngobrol basa-basi dengan supir, tetapi tak lama taksi mulai senyap. Aku cuma pengin memandangi tempat-tempat yang kulalui sepanjang jalan lewat jendela taksi. Empat tahun berjuang di Semarang, inilah kali pertama aku pergi tanpa perlu menjadikan lagi Semarang sebagai tujuan pulang.
Tugasku di Semarang sudah selesai. Lima hari setelah wisuda dan aku langsung pergi meninggalkan Semarang itu bener-bener hal yang melegakan sekaligus menyakitkan. Sejujurnya, pada bagian ini aku belum bisa lepas sepenuhnya dari bayang-bayang Semarang beserta seluruh kenangannya. Tetapi, sudahlah. Hidup adalah perjalanan yang nggak ada habisnya. Maka, aku pun menginjakkan kaki di depan Stasiun Tawang dengan pandangan optimis. Aku percaya ada sesuatu yang lebih hebat yang menungguku di Jakarta.  
Disambut dengan iringan musik campur sari, Stasiun Tawang kelihatan ramai. Ada beberapa orang yang asyik bercengkerama, hilir mudik menunggu antrian menuju peron, ada pula yang hanya menatap iringan musik yang disajikan. Tawang, malam itu adalah Tawang yang mempesona (Hehe. Aku baru pertama kali naik kereta di Tawang malam hari, nggak nyangka bisa seromantis ini). Aku tiba di stasiun, tiga puluh menit lebih awal, sedangkan Elsa tiba beberapa menit sebelum kereta berjalan. Sampai akhirnya, dengan barang bawaan yang seabrek, kereta pun  berangkat.
Di kereta, setelah ngobrol singkat dengan Elsa yang ternyata sibuk dengan tugas kuliahnya, akhirnya aku memutuskan untuk tidur. Kalian tahu kan? Tidur di kereta itu tidur nggak tidur, tetapi akhirnya aku tidur juga kok (hehe). Delapan jam perjalanan akhirnya selesai, kami pun sampai di Stasiun Pasar Senen yang ternyata rame banget meski dini hari (jam 2 malam). Sesuai kesepakatan, kami bakal dijemput oleh Mas David (aku bener-bener makasih banget buat Mas David dan temannya yang udah bela-belain begadang menunggu kedatangan kami). Menaiki mobil kantor, kami pun menuju kos-kosan yang sudah disediakan BOLA untuk kami. Gratis.
Hari pertama sampai di Jakarta, keinginan kita berdua cuma tidur di kamar ber-AC yang dinginnya lumayan karena besok kami sudah mulai magang.
Pengalaman Tak Terlupakan
            Hari pertama magang, kita berdua kayak dua orang anak yang terdampar di antah berantah. Benar-benar asing. Dari kos ke kantor BOLA, hanya lima menitan jalan kaki. Jadi tempat magang kita adalah kantor redaksi Tabloid BOLA Kompas Gramedia yang terletak di Palmerah Barat. Memasuki area ini seperti surganya orang yang kepengin jadi wartawan. Sebelum masuk ke kantor Redaksi BOLA (satu gedung ada banyak divisi dari Grup Kompas), kita melewati kantor Tribun dan Kompas TV. Tidak hanya itu saja, di area Palmerah ternyata terdapat kantor pusat dari TEMPO dan The Jakarta Post, maka tidaklah heran jika Palmerah adalah pusat perusahaan “media besar” di Indonesia.
            Sesampainya di kantor, kita dapat banyak kejutan. Selain sesi perkenalan kesemua karyawan BOLA yang meliputi divisi Redaksi, Markom, Marketing, sampai Direktur, ternyata ada pula satu orang magang lainnya. Dia adalah Rian. Rian asli Jakarta, tetapi kuliahnya di Inggris. Kampusnya? Aku lupa.
            Kita pun ketemu sama Mba Aprel (miss you, Mba!) yang bakal jadi mentor kita selama magang. Orangnya seperti yang sudah aku ketahui ketika workhop bener-bener humble, enak diajak bicara, dan menyenangkan. Mba Aprel memberitahukan kalau tugas-tugas liputan selama magang akan diberikan via e-mail.
            Sebulan magang di BOLA, bener-bener hal yang menakjubkan. Selain harus berjibaku dengan liputan (nanti bakal kuceritan beberapa liputan yang amazing), aku dan Elsa pun harus hidup di tengah-tengah Jakarta yang benar-benar keras. Bayangin aja, perpindahan dari Semarang ke Jakarta itu bener-bener jegleg. Di Semarang, aku bisa kenyang dengan mengandalkan uang 3000 rupiah (nasi krempyeng). Di Jakarta, 3000 rupiah baru dapat gorengan dua. Biaya kehidupan di Jakarta mahal banget, Bro. Untuk urusan makan, paling tidak harus mengeluarkan 10.000 ribu. Itu pun baru dapat lauk tempe atau tahu. Kalau mau ayam, ya, nambah lagi duitnya. Tidak hanya soal makanan, transportasi pun menyita banyak sekali celengan yang ada di ATM-ku. BOLA memang menyediakan fasilitas transportasi, tapi mobil. Karena nggak bisa pakai mobil akhirnya, naik Gojek bisa, angkot nggak masalah, atau KRL Commuter Line yang paling aku suka.
            Jakarta memberikan pengalaman baru dalam hidupku.
            Hari-hari magang adalah hari-hari yang sibuk bagiku. Deadline. Liputan. Berita. Narasumber. BOLA. Kata-kata itulah yang memenuhi pikiranku. But, karena aku menjalaninya dengan enjoy, maka sebulan di Jakarta terasa bak kedipan mata. Cepet banget berlalu.  Tiba-tiba aku harus pamit pulang ke semua kru BOLA.
            Tapi kalian nggak perlu khawatir. Aku tulis kok beberapa pengalaman liputanku selama magang di BOLA.
Setengah Hari Nunggu Rio Haryanto
            Dua hari setelah mendarat di Jakarta, kita berdua kebagian tugas untuk liputan Rio Haryanto. Sebenarnya ada dua tugas, aku liputan esklusif dengan Rio dan Elsa yang meliput acara. Dapat tugas pertama yang menantang dan penuh godaan itu, siapa sih yang nggak gerogi? Aku pun begitu. Tempat acaranya di Gedung Theatre XXI yang ada di daerah Thamrin. Pertama kali liputan aku pakai gojek. Semalam, aku sudah merancang beberapa pertanyaan untuk wawancara bareng Rio. Huh! Bener-bener nggak nyangka bakal meliput Rio.
            Kami datang siang, sekitar jam 12-an. Acaranya dimulai jam 1. Sebelum acara “Michelin Graduation Day” berlangsung yang bintang tamunya Rio, ada sesi makan-makan dulu. Wuiihh! Rasanya makan di tempat mewah bareng wartawan-warwatan lain baik cetak, online, maupun televisi itu…. Selain mengenyangkan juga tak terlupakan. Usai makan-makan, tibalah acara presco yang isinya gitu-gitulah. You know what I mean.
            Bagian paling greget dari liputan ini adalah ketika aku tidak bisa mewawancarai Rio. Bener-bener deh. Rio sulit banget ditembus. Aku bingung dong. Ini kan tugas pertama dari Mba Aprel. Masa aku gagal?
            Elsa sudah selesai meliputnya karena dia kebagian acara, sedangkan aku masih terus berusaha untuk bisa wawancara esklusif bareng Rio. Setelah berjam-jam lamanya menanti dalam ketidakpastian, akhirnya wawancara bareng Rio Haryanto pun terlaksana, meskipun bareng sama wartawan lain. Pokoknya setelah wawancara bareng Rio, aku jadi tahu satu hal. Tentu saja jadi reporter itu harus kuat menunggu lama sampai berhasil liputan. Tetapi ada hal lain yang lebih mengejutkan. Kalian mau tahu? Rio Haryanto punya lesung pipi yang membuatnya sangat manis kalau lagi tersenyum. Intinya kalian harus ingat ini, senyum Rio mematikan!
Grogi Ketemu Bang Ahsan

Foto bareng Bang Ahsan
            Sehari sebelum aku liputan bareng Bang Muhammad Ahsan, ada kejadian janggal yang kupikir patut diceritakan. Awalnya aku mau pamer sama Gita Febriyanti (sahabatku) yang nge-fans sama pemain bulutangkis, Muhammad Ahsan. Aku bilang ke Gita gini lewat BBM.
            “Ndul, kalau misal aku dapat tugas liputan Bang Ahsan, kamu mau nitip apa?”
            Gita menjawab, “Apa pun deh, Mba. Pelukan bisa, nomor bisa, hehe…”
            Aku nggak tahu loh, tugas liputan yang bakal diberikan kepadaku itu apa dan dengan siapa. Yang penting bisa pamer dulu ke Gita. Eh, tetapi, besoknya, aku dibikin terkejut oleh takdir yang kadang aneh. Aku dapat tugas untuk menemani Mba Aprel,  Pak Kumis, Mas Herka, buat memberikan piala ke Cipayung. Coba tebak tugas apakah itu?
            Tugasnya adalah melihat prosesi penerimaan Anugerah Olahraga Indonesia (AORI) 2015 yang diberikan kepada Muhammad Ahsan dan Hendra Setiawan sebagai Atlet Putra Terbaik.
            Mengendarai mobil ke Pelatnas Cipayung, Jakarta Timur, aku deg-degan minta ampun. Soalnya inilah untuk pertama kalinya aku bertemu dengan Ahsan secara langsung. Selain nge-fens, aku juga ingat masa-masa alay bareng temen-temen kos Nabila yang teriak-teriak dukung Ahsan/Hendra ketika main.
Sesampainya di Cipayung, aku dibikin takjub. Pelatnas Cipayung bener-bener tempat menempa diri para atlet bulutangkis Indonesia. Para atlet yang bisa disebut pahlawan karena telah mengharumkan nama Indonesia di dunia itu benar-benar berjuang dan berlatih sangat ketat. Ketika kami datang, para atlet sedang latihan. Aku bisa melihat Gresia Polli, Liliatna Natsir, Tantowi Ahmad, dan atlet-atlet lainnya.
            Usai melihat latihan, akhirnya penyerahan plakat pun dilakukan. Hari itu, yang aku ingat, saking geroginya ketemu Bang Ahsan, aku nggak banyak melakukan sesuatu. Cuma sesekali bantu bikin video, masang banner, dan minta foto sama Bang Ahsan. Tentu saja sebagai bayar janji ke Gita. Dan dengan takut-takut meminta bantuan Pimpinan Redaksi BOLA, Pak Kumis, buat motion aku bareng bang Ahsan.
            Di foto itu, yang aku ingat sampai dengan sekarang, aku cuma memperhatikan janggut Bang Ahsan yang ternyata beneran. Beneran lebat (keinget kejadian nonton bareng temen-temen Kos Nabila yang seru banget). Hahaha.
Press Conference ala Bintang Lima
            Tugas liputan BOLA, beberapa ada yang tempatnya di Hotel. Dan ini pengalaman yang tak pernah bisa aku lupakan juga. Soalnya, hotel yang dijadikan tempat liputan nggak main-main, bintang lima, coy. Kayak Hotel The Sultan. Gojek aja nggak boleh masuk ke parkiran depannya. Cuma mobil yang dibolehin. Tidak hanya itu, narasumber yang aku wawancarai pun, kebanyakan orang-orang penting. Dan yang paling utama yang nggak bakal aku lupa adalah suguhan yang diberikan ke wartawan adalah sajian bintang lima. Yang rasanya….. tiada dua.
            Begitulah, pada akhirnya magang di BOLA adalah anugerah yang diberikan Allah kepadaku. Sebuah anugerah yang pasti memberikan banyak sekali pelajaran hidup. Dari pengalaman-pengalaman di BOLA, aku banyak mengerti arti menunggu, berjuang, bertahan, dan tentu saja  bersikap dewasa. Ya, selepas magang di BOLA aku akan benar-benar hidup sebagai seseorang yang bertanggung jawab terhadap diriku sendiri. Aku akan memulai hidupku dari nol lagi.
            Selepas magang di BOLA, aku cuma mau menyampaikan terima kasih tahun 2016. Tahun penuh kejutan, petualangan, semangat, pengorbanan, dan kerja keras. Tak lupa juga, aku haturkan banyak terima kasih untuk orang-orang yang berkaitan dengan magangku di BOLA. Terima kasih diberikan kepada:
Keluarga yang telah men-support aku dan mendukung semua pilihanku.
            BP2M yang telah menjadi tempat berjuang dan awal semua keinginananku untuk terjun ke dunia jurnalistik.
            Kelompok 15 WRB, Elsa, Erlingga, Azim, dan Sigit untuk pertemuan yang tak terduga dan kerja sama yang luar biasa.
            Segenap Kru Tabloid BOLA, khususnya Mba Aprel (untuk bimbingan yang tiada lelah), Bang Dodi, Bang Doni, Mas Anggun, Bang Heri, Mas Herka, Pak Kumis (pimpinan redaksi), Mas Sofa, Rian, Mba Ana, dan Mba Meike.
            Terakhir, untuk kawan yang ternyata bertemu di Jakarta, Nadia dan Vina (terima kasih untuk perjalanan serunya di Bogor), Mba Marfuah (terima kasih untuk jalan-jalan muterin Jakartanya seharian), Opie (terima kasih untuk sesi curhatan yang luar biasa), dan Mba Naya (untuk perjalanan ke Tebet dan sharing tentang kesehatan yang bikin aku sadar kalau aku hidup dengan tidak benar selama ini).
Selesai.

2 komentar:

  1. hmmmmh....baca ini cukup nguras emosiku...tiba2 sedih, nyesek, tiba2 ketawa, tiba2 seneng terharu...
    waahhhh daebak! pengalaman yg keren! miss you sus...

    BalasHapus
  2. Apakah tabloid bola buka lowongan magang tiap tahun?,dan syarat apa supaya bisa magang di tabloid bola?

    BalasHapus