Catatan pertama yang kubuat buat blog Catatan Komo nih.
Setelah sekian lama merenungi banyak hal, termasuk makna hidup, arti kegagalan,
dan pencapaian mimpi-mimpi, akhirnya kuputuskan buat nulis beberapa pengalaman
hidup yang mungkin bagi sebagian orang nggak penting banget. Tapi buatku, It My
Life.
So, guys, pengalaman pertama yang bakal kuceritakan adalah catatan magang
di Tabloid BOLA. Tetapi, sebelum aku menceritakan pengalaman-pengalaman seru
saat menjadi reporter BOLA, alangkah lebih baiknya jika aku menceritakan
terlebih dahulu kenapa aku bisa mendapatkan kesempatan magang di BOLA selama
satu bulan (kesempatan yang nggak semua orang bisa, hehe). So, berikut sih
keterangan lebih jelasnya.
Pasca dinyatakan lulus dari Universitas Negeri Semarang
setelah hampir satu tahun bergulat dengan skripsi, akhirnya aku punya waktu
cukup banyak untuk mengembangkan diri khususnya di BP2M (Badan Penerbitan dan
Pers Mahasiswa) sembari kerja sampingan sana-sini untuk menutupi biaya hidup di
Semarang.
Bulan Agustus 2016, aku masih ingat banget, waktu
itu temenku yang freelance di Kompas Semarang, namanya Tika Indriana, menawari
anggota BP2M termasuk aku untuk mengikuti workshop tentang bulutangkis.
Acaranya kayak gimana, di mana, dan kapan, aku nggak tahu. Yang penting daftar
dulu. Anggota BP2M yang punya waktu luang akhirnya pada daftar, tak terkecuali
aku (pada waktu workshop berlangsung aku baru tahu kalau peserta dari BP2M itu
paling banyak sekitar 11 orang-an). Bener-bener semangat kan?
Usai daftar secara
kelompok, formulir pendaftaran pun diberikan ke Tika. Nah, pada saat menunggu
kabar selanjutnya tentang workshop ini, ternyata BP2M punya acara. Namanya open
mind, semacam acara yang diselenggarakan untuk memperkenalkan lebih dalam tentang
jurnalistik kepada calon anggota BP2M. Karena open mind ini adalah kegiatan
yang diusung untuk meningkatan daya tahan calon anggota, dipilihlah tempat yang
tak biasa. Yupp. Gunung Ungaran. Bayangin aja, selama tiga hari dua malam, kita
mesti belajar tentang arti survival. Itu
benar-benar pengalaman yang luar biasa. Dan aku kayaknya udah punya keputusan
tidak lagi naik gunung setelah acara open mind. Pokoknya itu.
Nah, asal kalian tahu aja,
ternyata penyelenggaraan open mind ini berdampak pada pendaftaran workshop.
Kalian tahu kenapa? Tiga hari sebelum workshop digelar, ada beberapa pengumuman
untuk calon peserta. Dan kalian tahu? Anggota BP2M sempat batal ikut workshop
karena nggak pada bisa hubungi. Gimana mau bisa dihubungi, kalau kita ada di
gunung. Untungnya, berkat sebuah keajaiban, kami semua bisa ikut.
Berbekal persiapan yang
ala kadarnya baik fisik maupun mental (karena udah di jor habis-habisan di
Gunung Ungaran), akhirnya aku, Irham, Kirana, Fatimah, Teguh, Lalu, Dian,
Yunita, Rais, Al, dan Mas Heru berangkat workshop bareng-bareng pakai motor
dari Unnes. Workshop Reportase Bulutangkis ini akan diadakan selama dua hari
(30 – 31 Agustus 2016), di Semarang dan Kudus. Penyelenggaranya Tabloid BOLA
Kompas Gramedia yang disponsori Djarum Bakti Olahraga.
Hari Pertama
Tempatnya di Hotel Santika Semarang (hotel milik grup
Kompas). Pas nyampe di sana, agak surprise banget. Soalnya kami bener-bener
belepotan. Tahu kan perubahan wajah orang yang baru selesai mendaki gunung?
Kucel, hitam kemerahan, kayak tikus baru lahiran. So, dengan menggunakan
masker, kami melakukan registrasi ulang.
Usai registrasi kami berganti baju yang telah disediakan
panitia. Dibagian ganti baju ini, aku bahagia sekaligus kesel. Bahagia karena
dapat dua kaos gratisan. Tetapi kesel juga karena pas berangkat aku pakai
kemeja yang lumayan panjang, sehingga pas ganti kaos yang lengan pendek (aku
nggak pakai manset) jadi aneh. Baju kemejaku yang dipakai daleman lebih panjang
dari kaosnya. Pokoknya, aneh banget.
Ganti baju selesai, kami langsung menyantap makan pagi.
Istilah kerennya sih breakfast. Panitia udah menyediakan makanan ringan ala
jajan pasar, brownis-brownisan, dan minuman. Pukul 8 akhirnya workshop dimulai.
Workshop hari pertama berisi materi tentang jurnalistik.
Dari pagi sampe malem, kami disugihi materi dengan pembicara yang keceh-keceh
banget. Ada mba Aprelia Wulansari (Redaktur Olimpik BOLA), Pepih Nugraha
(Redaktur Pelaksana Kompasiana), Herka Yanis (Redaktur Foto BOLA), dan Azwar
Muhlis (Redaktur Artistik BOLA). Di workshop ini seumur-umur aku baru tahu dan
megang yang namanya Tabloid BOLA (piiis, hehe).
Hari pertama dengan beragam materi yang udah biasa aku
dengerin saat kuliah di BP2M, aku nggak begitu mengikuti. Aku malah sibuk dopok
sama Kirana, sembari sesekali foto sama ambil makan. Hehe. Barulah setelah
semua materi disampaikan, semua peserta (total 75 orang dari beragam kampus di
Jawa Tengah dn DIY), dibagi dalam kelompok-kelompok kecil. Masing-masing
terdiri atas lima orang. Jadi, ada lima belas kelompok.
Aku masuk ke dalam kelompok 15 (kelompok buncit).
Masing-masing kelompok punya pendampingnya, dan kebetulan di kelompokku ada Mas
Erfan (nama hitsnya Mas Kambing). Setiap kelompok menentukan pembagian tugas
dan topik reportase untuk besok pagi. Jadi menurut clue yang dibagikan Mas
Kambing, di hari kedua, tugasnya adalah reportase di Kudus tentang pertandingan
bulutangkis.
Pas diskusi aku kebagian job sebagai ketua (tahu kan
alasannya? Yupp. Karena aku yang paling tua. Hahaha). Anggota kelompokku
terdiri atas mahasiswa semester 3 sampai 7. Ada Sigit Firdaus (UIN
Walisongo/Semester 5/Fotografer), Erlingga (UII/Semester 3/Reporter), Elsa
(UNDIP/Semester 5/Reporter), dan Azim (Universitas PGRI/Semester 5/Reporter),
sedangkan aku yang paling tua (semester 9 dan udah lulus tinggal wisuda aja)
kebagian jadi ketua, reporter, dan editor.
Dikasih waktu cuma lima belas menit, akhirnya kami
sepakat untuk mengambil angle: nasib pebulutangkis putri Indonesia yang lagi
sekarat. Pencetus angle ini aku, padahal aku sendiri nggak begitu paham kenapa
pebulutangkis putri Indonesia sekarat? Entahlah. Feelingku mengatakan ini angle
yang bagus. Setelah topik dan angle siap, kami semua bubar jalan. Hari pertama
selesai.
Hari Kedua
Hari kedua menuntut peserta workshop untuk berangkat pagi
banget, soalnya kami akan melakukan perjalanan ke Kudus. Setengah 6, rombongan BP2M
berangkat dari Unnes. Di parkiran Hotel Santika, sudah disediakan dua bus untuk
mengangkut semua peserta. Pas mau berangkat, ada adegan yang bikin deg-degan
minta ampun. Di detik-detik terakhir bus akan diberangkatkan dua anggota
kelompokku, kelompok 15, belum datang. Aku udah stress banget karena jika
mereka tidak datang, berarti kelompokku akan berkurang dua personil dan itu
benar-benar skakmat. Aku dapat memastikan bahwa kelompokku sudah kalah sebelum
berperang. Tapi, Allah ternyata masih sayang. Beberapa detik sebelum
keberangkatan bus, dua cecurut anggotaku yang udah bikin pesimis duluan,
muncul. Kami pun berangkat ke Kudus.
Dua jam perjalanan. Akhirnya sampai juga di GOR Djarum.
GOR-nya besar baget dan rame. Ya, iyalah. Di sana kan lagi banyak peserta
junior yang lagi tanding bulutangkis. Nah, tugas yang diberikan di workshop
hari kedua adalah meliput kegiatan pertandingan bulutangkis sesuai dengan angle
yang udah ditentukan.
Sebelum terjun ke lapangan, kami disuguhi talkshow dengan
legenda bulutangkis Indonesia, Cristian Hadinata (Co Cris). Denger-denger juga
bakal ada Susy Susanti, Maria Cristin, dan beberapa atlet bulutangkis Indonesia
lainnya.
Talkshow selesai, anggota kelompok 15 langsung bubar
jalan, mengerjakan semua job desk yang sudah kuberikan. Saat-saat liputan nggak
perlu lah, yah, diceritain. Intinya ya itu, ketemu narasumber, wawancara,
menulis, dan kemudian dibikin berita. Kami punya waktu sampe jam 1 siang untuk
liputan. Setelah liputan selesai, kami bergegas ke Hotel Kudus (aku lupa nama
hotelnya) untuk mengerjakan naskah. Di sinilah pertarungan sesungguhnya
terjadi. Semua kelompok menulis hasil liputannya yang nantinya akan dipresentasikan dihadapan
dewan juri.
Dua jam. Waktu yang diberikan panitia untuk menuliskan
berita. Semua kelompok terlihat kocar-kacir. Pusing luar dalam kayaknya,
termasuk kelompokku. Aku yang bagian editor, pusing setengah stress menghadapi
berita yang tulis kelompokku. Pusing buat menjadikan satu berita di antara
beberapa tulisan dan di antara kepusingan yang merajalela, akhirnya selesai di
saat-saat terakhir.
Berita-berita yang sudah terkumpul, dijadikan panitia
dari BOLA semacam buletin. Setelah itu, masing-masing kelompok mempresentasikan
tulisannya. Aku lupa kebagian urutan berapa, yang jelas setelah didaulat untuk
menjadi pembicara aku bener-bener gugup. Tapi sepertinya presentasi kelompokku
berjalan dengan lancar. Buktinya banyak tepuk tangan dan yang aku ingat,
kelompok 15 mendapat tanggapan positif dari para juri. Aku masih ingat banget
perkataan Pepih Nugraha saat menanggapi kelompok 15.
“Ini adalah tulisan yang saya tunggu-tunggu.”
Mendengar perkataan Pepih Nugraha dan tanggapan
temen-temen BP2M, aku agak geer. Kata mereke sih kelompok 15 bakal jadi
pemenangnya. Tetapi tunggu dulu, biar waktu yang membuktikan.
Penjurian selesai. MC yang waktu itu aku belum tahu,
tetapi sekarang tahu ternyata namanya Mas David Renato, mengumumkan pemenang
workshop. Ada dua ketegori yaitu Pemenang dan Runner UP. Semua peserta
harap-harap cemas menunggu pengumuman Mas David yang sialnya begitu lihat
memancing emosi berlama-lama.
“Dan runner up nya adalah kelompok-kelompok…. Kelompok 6
(kalau nggak salah ya),” teriak Mas Davit di depan mic.
Semua peserta jejeritan. Ada yang syok. Ada yang melongo.
Ada yang seneng, ya, itu kelompok runner up. Kelompok pemenang kedua itu pun
maju. Tak berselang lama, Mas David mengumumkan Pemenang sesungguhnya. Aula
dibikin senyap. Semua peserta bungkam. Ada yang masih melongo. Ada pula yang merapalkan
doa-doa berharap kelompoknya yang jadi pemenang. Kemudian Mas Davit menerikkan
pemenang workshop.
“Dan pemenang workshop bulutangkis 2016 adalah kelompok….
Kelompok…. KELOMPOK…..!
Bersambung. Klik di sini untuk cerita selanjutnya.
hotel gripta...
BalasHapushaha ngguyu aku pas baca cecurut. koe ki loh. suloyo!