Sabtu, 04 Maret 2017

Catatan Magang di Tabloid BOLA Kompas Gramedia: Part 1

Aggota BP2M yang ikut workshop (Aku pakai kerudung biru) 

Berawal dari Sebuah Workshop
            Catatan pertama yang kubuat buat blog Catatan Komo nih. Setelah sekian lama merenungi banyak hal, termasuk makna hidup, arti kegagalan, dan pencapaian mimpi-mimpi, akhirnya kuputuskan buat nulis beberapa pengalaman hidup yang mungkin bagi sebagian orang nggak penting banget. Tapi buatku, It My Life.
So, guys, pengalaman pertama yang bakal kuceritakan adalah catatan magang di Tabloid BOLA. Tetapi, sebelum aku menceritakan pengalaman-pengalaman seru saat menjadi reporter BOLA, alangkah lebih baiknya jika aku menceritakan terlebih dahulu kenapa aku bisa mendapatkan kesempatan magang di BOLA selama satu bulan (kesempatan yang nggak semua orang bisa, hehe). So, berikut sih keterangan lebih jelasnya.
            Pasca dinyatakan lulus dari Universitas Negeri Semarang setelah hampir satu tahun bergulat dengan skripsi, akhirnya aku punya waktu cukup banyak untuk mengembangkan diri khususnya di BP2M (Badan Penerbitan dan Pers Mahasiswa) sembari kerja sampingan sana-sini untuk menutupi biaya hidup di Semarang.
 Bulan Agustus 2016, aku masih ingat banget, waktu itu temenku yang freelance di Kompas Semarang, namanya Tika Indriana, menawari anggota BP2M termasuk aku untuk mengikuti workshop tentang bulutangkis. Acaranya kayak gimana, di mana, dan kapan, aku nggak tahu. Yang penting daftar dulu. Anggota BP2M yang punya waktu luang akhirnya pada daftar, tak terkecuali aku (pada waktu workshop berlangsung aku baru tahu kalau peserta dari BP2M itu paling banyak sekitar 11 orang-an). Bener-bener semangat kan?
Usai daftar secara kelompok, formulir pendaftaran pun diberikan ke Tika. Nah, pada saat menunggu kabar selanjutnya tentang workshop ini, ternyata BP2M punya acara. Namanya open mind, semacam acara yang diselenggarakan untuk memperkenalkan lebih dalam tentang jurnalistik kepada calon anggota BP2M. Karena open mind ini adalah kegiatan yang diusung untuk meningkatan daya tahan calon anggota, dipilihlah tempat yang tak biasa. Yupp. Gunung Ungaran. Bayangin aja, selama tiga hari dua malam, kita mesti belajar tentang arti  survival. Itu benar-benar pengalaman yang luar biasa. Dan aku kayaknya udah punya keputusan tidak lagi naik gunung setelah acara open mind. Pokoknya itu.
Nah, asal kalian tahu aja, ternyata penyelenggaraan open mind ini berdampak pada pendaftaran workshop. Kalian tahu kenapa? Tiga hari sebelum workshop digelar, ada beberapa pengumuman untuk calon peserta. Dan kalian tahu? Anggota BP2M sempat batal ikut workshop karena nggak pada bisa hubungi. Gimana mau bisa dihubungi, kalau kita ada di gunung. Untungnya, berkat sebuah keajaiban, kami semua bisa ikut.
Berbekal persiapan yang ala kadarnya baik fisik maupun mental (karena udah di jor habis-habisan di Gunung Ungaran), akhirnya aku, Irham, Kirana, Fatimah, Teguh, Lalu, Dian, Yunita, Rais, Al, dan Mas Heru berangkat workshop bareng-bareng pakai motor dari Unnes. Workshop Reportase Bulutangkis ini akan diadakan selama dua hari (30 – 31 Agustus 2016), di Semarang dan Kudus. Penyelenggaranya Tabloid BOLA Kompas Gramedia yang disponsori Djarum Bakti Olahraga.
Hari Pertama
            Tempatnya di Hotel Santika Semarang (hotel milik grup Kompas). Pas nyampe di sana, agak surprise banget. Soalnya kami bener-bener belepotan. Tahu kan perubahan wajah orang yang baru selesai mendaki gunung? Kucel, hitam kemerahan, kayak tikus baru lahiran. So, dengan menggunakan masker, kami melakukan registrasi ulang.
            Usai registrasi kami berganti baju yang telah disediakan panitia. Dibagian ganti baju ini, aku bahagia sekaligus kesel. Bahagia karena dapat dua kaos gratisan. Tetapi kesel juga karena pas berangkat aku pakai kemeja yang lumayan panjang, sehingga pas ganti kaos yang lengan pendek (aku nggak pakai manset) jadi aneh. Baju kemejaku yang dipakai daleman lebih panjang dari kaosnya. Pokoknya, aneh banget.
            Ganti baju selesai, kami langsung menyantap makan pagi. Istilah kerennya sih breakfast. Panitia udah menyediakan makanan ringan ala jajan pasar, brownis-brownisan, dan minuman. Pukul 8 akhirnya workshop dimulai.
            Workshop hari pertama berisi materi tentang jurnalistik. Dari pagi sampe malem, kami disugihi materi dengan pembicara yang keceh-keceh banget. Ada mba Aprelia Wulansari (Redaktur Olimpik BOLA), Pepih Nugraha (Redaktur Pelaksana Kompasiana), Herka Yanis (Redaktur Foto BOLA), dan Azwar Muhlis (Redaktur Artistik BOLA). Di workshop ini seumur-umur aku baru tahu dan megang yang namanya Tabloid BOLA (piiis, hehe).
            Hari pertama dengan beragam materi yang udah biasa aku dengerin saat kuliah di BP2M, aku nggak begitu mengikuti. Aku malah sibuk dopok sama Kirana, sembari sesekali foto sama ambil makan. Hehe. Barulah setelah semua materi disampaikan, semua peserta (total 75 orang dari beragam kampus di Jawa Tengah dn DIY), dibagi dalam kelompok-kelompok kecil. Masing-masing terdiri atas lima orang. Jadi, ada lima belas kelompok.
            Aku masuk ke dalam kelompok 15 (kelompok buncit). Masing-masing kelompok punya pendampingnya, dan kebetulan di kelompokku ada Mas Erfan (nama hitsnya Mas Kambing). Setiap kelompok menentukan pembagian tugas dan topik reportase untuk besok pagi. Jadi menurut clue yang dibagikan Mas Kambing, di hari kedua, tugasnya adalah reportase di Kudus tentang pertandingan bulutangkis.
            Pas diskusi aku kebagian job sebagai ketua (tahu kan alasannya? Yupp. Karena aku yang paling tua. Hahaha). Anggota kelompokku terdiri atas mahasiswa semester 3 sampai 7. Ada Sigit Firdaus (UIN Walisongo/Semester 5/Fotografer), Erlingga (UII/Semester 3/Reporter), Elsa (UNDIP/Semester 5/Reporter), dan Azim (Universitas PGRI/Semester 5/Reporter), sedangkan aku yang paling tua (semester 9 dan udah lulus tinggal wisuda aja) kebagian jadi ketua, reporter, dan editor.
            Dikasih waktu cuma lima belas menit, akhirnya kami sepakat untuk mengambil angle: nasib pebulutangkis putri Indonesia yang lagi sekarat. Pencetus angle ini aku, padahal aku sendiri nggak begitu paham kenapa pebulutangkis putri Indonesia sekarat? Entahlah. Feelingku mengatakan ini angle yang bagus. Setelah topik dan angle siap, kami semua bubar jalan. Hari pertama selesai.
Hari Kedua
            Hari kedua menuntut peserta workshop untuk berangkat pagi banget, soalnya kami akan melakukan perjalanan ke Kudus. Setengah 6, rombongan BP2M berangkat dari Unnes. Di parkiran Hotel Santika, sudah disediakan dua bus untuk mengangkut semua peserta. Pas mau berangkat, ada adegan yang bikin deg-degan minta ampun. Di detik-detik terakhir bus akan diberangkatkan dua anggota kelompokku, kelompok 15, belum datang. Aku udah stress banget karena jika mereka tidak datang, berarti kelompokku akan berkurang dua personil dan itu benar-benar skakmat. Aku dapat memastikan bahwa kelompokku sudah kalah sebelum berperang. Tapi, Allah ternyata masih sayang. Beberapa detik sebelum keberangkatan bus, dua cecurut anggotaku yang udah bikin pesimis duluan, muncul. Kami pun berangkat ke Kudus.
            Dua jam perjalanan. Akhirnya sampai juga di GOR Djarum. GOR-nya besar baget dan rame. Ya, iyalah. Di sana kan lagi banyak peserta junior yang lagi tanding bulutangkis. Nah, tugas yang diberikan di workshop hari kedua adalah meliput kegiatan pertandingan bulutangkis sesuai dengan angle yang udah ditentukan.
            Sebelum terjun ke lapangan, kami disuguhi talkshow dengan legenda bulutangkis Indonesia, Cristian Hadinata (Co Cris). Denger-denger juga bakal ada Susy Susanti, Maria Cristin, dan beberapa atlet bulutangkis Indonesia lainnya.
            Talkshow selesai, anggota kelompok 15 langsung bubar jalan, mengerjakan semua job desk yang sudah kuberikan. Saat-saat liputan nggak perlu lah, yah, diceritain. Intinya ya itu, ketemu narasumber, wawancara, menulis, dan kemudian dibikin berita. Kami punya waktu sampe jam 1 siang untuk liputan. Setelah liputan selesai, kami bergegas ke Hotel Kudus (aku lupa nama hotelnya) untuk mengerjakan naskah. Di sinilah pertarungan sesungguhnya terjadi. Semua kelompok menulis hasil liputannya  yang nantinya akan dipresentasikan dihadapan dewan juri.
            Dua jam. Waktu yang diberikan panitia untuk menuliskan berita. Semua kelompok terlihat kocar-kacir. Pusing luar dalam kayaknya, termasuk kelompokku. Aku yang bagian editor, pusing setengah stress menghadapi berita yang tulis kelompokku. Pusing buat menjadikan satu berita di antara beberapa tulisan dan di antara kepusingan yang merajalela, akhirnya selesai di saat-saat terakhir.
            Berita-berita yang sudah terkumpul, dijadikan panitia dari BOLA semacam buletin. Setelah itu, masing-masing kelompok mempresentasikan tulisannya. Aku lupa kebagian urutan berapa, yang jelas setelah didaulat untuk menjadi pembicara aku bener-bener gugup. Tapi sepertinya presentasi kelompokku berjalan dengan lancar. Buktinya banyak tepuk tangan dan yang aku ingat, kelompok 15 mendapat tanggapan positif dari para juri. Aku masih ingat banget perkataan Pepih Nugraha saat menanggapi kelompok 15.
            “Ini adalah tulisan yang saya tunggu-tunggu.”
            Mendengar perkataan Pepih Nugraha dan tanggapan temen-temen BP2M, aku agak geer. Kata mereke sih kelompok 15 bakal jadi pemenangnya. Tetapi tunggu dulu, biar waktu yang membuktikan.
            Penjurian selesai. MC yang waktu itu aku belum tahu, tetapi sekarang tahu ternyata namanya Mas David Renato, mengumumkan pemenang workshop. Ada dua ketegori yaitu Pemenang dan Runner UP. Semua peserta harap-harap cemas menunggu pengumuman Mas David yang sialnya begitu lihat memancing emosi berlama-lama.
            “Dan runner up nya adalah kelompok-kelompok…. Kelompok 6 (kalau nggak salah ya),” teriak Mas Davit di depan mic.
            Semua peserta jejeritan. Ada yang syok. Ada yang melongo. Ada yang seneng, ya, itu kelompok runner up. Kelompok pemenang kedua itu pun maju. Tak berselang lama, Mas David mengumumkan Pemenang sesungguhnya. Aula dibikin senyap. Semua peserta bungkam. Ada yang masih melongo. Ada pula yang merapalkan doa-doa berharap kelompoknya yang jadi pemenang. Kemudian Mas Davit menerikkan pemenang workshop.
            “Dan pemenang workshop bulutangkis 2016 adalah kelompok…. Kelompok…. KELOMPOK…..!
            Bersambung. Klik di sini untuk cerita selanjutnya. 

1 komentar:

  1. hotel gripta...

    haha ngguyu aku pas baca cecurut. koe ki loh. suloyo!

    BalasHapus