![]() |
| Kru Magang Tabloid Bola dari Depan: Elsa, Susi, dan Rian |
Keberangkatan
Tanggal 31 Oktober, aku
dan Elsa berangkat ke Jakarta menggunakan kereta api Brantas yang harganya
lumayan murah. Rp. 84.000. Kami berangkat malam hari.
Sebelum berangkat, aku pamitan ke anak-anak kos Nabila. Kalau mengingat momen-momen pamitan, entah itu bareng temen jurusan, BP2M, dan kos Nabila, rasanya itu:
aku pengin nangis lagi (saat menuliskan ini, aku
bener-bener rindu kalian semua). Sebelum berangkat, aku pamitan ke anak-anak kos Nabila. Kalau mengingat momen-momen pamitan, entah itu bareng temen jurusan, BP2M, dan kos Nabila, rasanya itu:
Aku menyewa taksi dari
Unnes ke Stasiun Tawang. Sepanjang perjalanan, awalnya aku ngobrol basa-basi
dengan supir, tetapi tak lama taksi mulai senyap. Aku cuma pengin memandangi
tempat-tempat yang kulalui sepanjang jalan lewat jendela taksi. Empat tahun berjuang
di Semarang, inilah kali pertama aku pergi tanpa perlu menjadikan lagi Semarang
sebagai tujuan pulang.
Tugasku di Semarang sudah
selesai. Lima hari setelah wisuda dan aku langsung pergi meninggalkan Semarang
itu bener-bener hal yang melegakan sekaligus menyakitkan. Sejujurnya, pada
bagian ini aku belum bisa lepas sepenuhnya dari bayang-bayang Semarang beserta
seluruh kenangannya. Tetapi, sudahlah. Hidup adalah perjalanan yang nggak ada
habisnya. Maka, aku pun menginjakkan kaki di depan Stasiun Tawang dengan
pandangan optimis. Aku percaya ada sesuatu yang lebih hebat yang menungguku di
Jakarta.
Disambut dengan iringan
musik campur sari, Stasiun Tawang kelihatan ramai. Ada beberapa orang yang
asyik bercengkerama, hilir mudik menunggu antrian menuju peron, ada pula yang
hanya menatap iringan musik yang disajikan. Tawang, malam itu adalah Tawang
yang mempesona (Hehe. Aku baru pertama kali naik kereta di Tawang malam hari,
nggak nyangka bisa seromantis ini). Aku tiba di stasiun, tiga puluh menit lebih
awal, sedangkan Elsa tiba beberapa menit sebelum kereta berjalan. Sampai
akhirnya, dengan barang bawaan yang seabrek, kereta pun berangkat.
Di kereta, setelah ngobrol
singkat dengan Elsa yang ternyata sibuk dengan tugas kuliahnya, akhirnya aku
memutuskan untuk tidur. Kalian tahu kan? Tidur di kereta itu tidur nggak tidur,
tetapi akhirnya aku tidur juga kok (hehe). Delapan jam perjalanan akhirnya
selesai, kami pun sampai di Stasiun Pasar Senen yang ternyata rame banget meski
dini hari (jam 2 malam). Sesuai kesepakatan, kami bakal dijemput oleh Mas David
(aku bener-bener makasih banget buat Mas David dan temannya yang udah
bela-belain begadang menunggu kedatangan kami). Menaiki mobil kantor, kami pun
menuju kos-kosan yang sudah disediakan BOLA untuk kami. Gratis.
Hari pertama sampai di
Jakarta, keinginan kita berdua cuma tidur di kamar ber-AC yang dinginnya
lumayan karena besok kami sudah mulai magang.
Pengalaman Tak Terlupakan
Hari pertama magang, kita berdua kayak dua orang anak
yang terdampar di antah berantah. Benar-benar asing. Dari kos ke kantor BOLA,
hanya lima menitan jalan kaki. Jadi tempat magang kita adalah kantor redaksi
Tabloid BOLA Kompas Gramedia yang terletak di Palmerah Barat. Memasuki area ini
seperti surganya orang yang kepengin jadi wartawan. Sebelum masuk ke kantor
Redaksi BOLA (satu gedung ada banyak divisi dari Grup Kompas), kita melewati
kantor Tribun dan Kompas TV. Tidak hanya itu saja, di area Palmerah ternyata
terdapat kantor pusat dari TEMPO dan The Jakarta Post, maka tidaklah heran jika
Palmerah adalah pusat perusahaan “media besar” di Indonesia.
Sesampainya di kantor, kita dapat banyak kejutan. Selain
sesi perkenalan kesemua karyawan BOLA yang meliputi divisi Redaksi, Markom,
Marketing, sampai Direktur, ternyata ada pula satu orang magang lainnya. Dia
adalah Rian. Rian asli Jakarta, tetapi kuliahnya di Inggris. Kampusnya? Aku
lupa.
Kita pun ketemu sama Mba Aprel (miss you, Mba!) yang
bakal jadi mentor kita selama magang. Orangnya seperti yang sudah aku ketahui
ketika workhop bener-bener humble, enak diajak bicara, dan menyenangkan. Mba
Aprel memberitahukan kalau tugas-tugas liputan selama magang akan diberikan via
e-mail.
Sebulan magang di BOLA, bener-bener hal yang menakjubkan.
Selain harus berjibaku dengan liputan (nanti bakal kuceritan beberapa liputan
yang amazing), aku dan Elsa pun harus hidup di tengah-tengah Jakarta yang
benar-benar keras. Bayangin aja, perpindahan dari Semarang ke Jakarta itu
bener-bener jegleg. Di Semarang, aku bisa kenyang dengan mengandalkan uang 3000
rupiah (nasi krempyeng). Di Jakarta, 3000 rupiah baru dapat gorengan dua. Biaya
kehidupan di Jakarta mahal banget, Bro. Untuk urusan makan, paling tidak harus
mengeluarkan 10.000 ribu. Itu pun baru dapat lauk tempe atau tahu. Kalau mau
ayam, ya, nambah lagi duitnya. Tidak hanya soal makanan, transportasi pun
menyita banyak sekali celengan yang ada di ATM-ku. BOLA memang menyediakan
fasilitas transportasi, tapi mobil. Karena nggak bisa pakai mobil akhirnya,
naik Gojek bisa, angkot nggak masalah, atau KRL Commuter Line yang paling aku
suka.
Jakarta memberikan pengalaman baru dalam hidupku.
Hari-hari magang adalah hari-hari yang sibuk bagiku.
Deadline. Liputan. Berita. Narasumber. BOLA. Kata-kata itulah yang memenuhi
pikiranku. But, karena aku menjalaninya dengan enjoy, maka sebulan di Jakarta
terasa bak kedipan mata. Cepet banget berlalu.
Tiba-tiba aku harus pamit pulang ke semua kru BOLA.
Tapi kalian nggak perlu khawatir. Aku tulis kok beberapa
pengalaman liputanku selama magang di BOLA.
Setengah Hari Nunggu Rio
Haryanto
Dua hari setelah mendarat di Jakarta, kita berdua
kebagian tugas untuk liputan Rio Haryanto. Sebenarnya ada dua tugas, aku
liputan esklusif dengan Rio dan Elsa yang meliput acara. Dapat tugas pertama
yang menantang dan penuh godaan itu, siapa sih yang nggak gerogi? Aku pun
begitu. Tempat acaranya di Gedung Theatre XXI yang ada di daerah Thamrin.
Pertama kali liputan aku pakai gojek. Semalam, aku sudah merancang beberapa
pertanyaan untuk wawancara bareng Rio. Huh! Bener-bener nggak nyangka bakal
meliput Rio.
Kami datang siang, sekitar jam 12-an. Acaranya dimulai
jam 1. Sebelum acara “Michelin Graduation Day” berlangsung yang bintang tamunya
Rio, ada sesi makan-makan dulu. Wuiihh! Rasanya makan di tempat mewah bareng
wartawan-warwatan lain baik cetak, online, maupun televisi itu…. Selain
mengenyangkan juga tak terlupakan. Usai makan-makan, tibalah acara presco yang
isinya gitu-gitulah. You know what I mean.
Bagian paling greget dari liputan ini adalah ketika aku
tidak bisa mewawancarai Rio. Bener-bener deh. Rio sulit banget ditembus. Aku
bingung dong. Ini kan tugas pertama dari Mba Aprel. Masa aku gagal?
Elsa sudah selesai meliputnya karena dia kebagian acara,
sedangkan aku masih terus berusaha untuk bisa wawancara esklusif bareng Rio.
Setelah berjam-jam lamanya menanti dalam ketidakpastian, akhirnya wawancara
bareng Rio Haryanto pun terlaksana, meskipun bareng sama wartawan lain.
Pokoknya setelah wawancara bareng Rio, aku jadi tahu satu hal. Tentu saja jadi
reporter itu harus kuat menunggu lama sampai berhasil liputan. Tetapi ada hal
lain yang lebih mengejutkan. Kalian mau tahu? Rio Haryanto punya lesung pipi
yang membuatnya sangat manis kalau lagi tersenyum. Intinya kalian harus ingat
ini, senyum Rio mematikan!
Grogi Ketemu Bang Ahsan
![]() |
| Foto bareng Bang Ahsan |
Sehari sebelum aku liputan
bareng Bang Muhammad Ahsan, ada kejadian janggal yang kupikir patut
diceritakan. Awalnya aku mau pamer sama Gita Febriyanti (sahabatku) yang
nge-fans sama pemain bulutangkis, Muhammad Ahsan. Aku bilang ke Gita gini lewat
BBM.
“Ndul, kalau misal aku dapat tugas liputan Bang Ahsan,
kamu mau nitip apa?”
Gita menjawab, “Apa pun deh, Mba. Pelukan bisa, nomor
bisa, hehe…”
Aku nggak tahu loh, tugas liputan yang bakal diberikan
kepadaku itu apa dan dengan siapa. Yang penting bisa pamer dulu ke Gita. Eh, tetapi,
besoknya, aku dibikin terkejut oleh takdir yang kadang aneh. Aku dapat tugas
untuk menemani Mba Aprel, Pak Kumis, Mas
Herka, buat memberikan piala ke Cipayung. Coba tebak tugas apakah itu?
Tugasnya adalah melihat prosesi penerimaan Anugerah Olahraga
Indonesia (AORI) 2015 yang diberikan kepada Muhammad Ahsan dan Hendra Setiawan
sebagai Atlet Putra Terbaik.
Mengendarai mobil ke Pelatnas Cipayung, Jakarta Timur,
aku deg-degan minta ampun. Soalnya inilah untuk pertama kalinya aku bertemu dengan
Ahsan secara langsung. Selain nge-fens, aku juga ingat masa-masa alay bareng
temen-temen kos Nabila yang teriak-teriak dukung Ahsan/Hendra ketika main.
Sesampainya di Cipayung,
aku dibikin takjub. Pelatnas Cipayung bener-bener tempat menempa diri para
atlet bulutangkis Indonesia. Para atlet yang bisa disebut pahlawan karena telah
mengharumkan nama Indonesia di dunia itu benar-benar berjuang dan berlatih
sangat ketat. Ketika kami datang, para atlet sedang latihan. Aku bisa melihat
Gresia Polli, Liliatna Natsir, Tantowi Ahmad, dan atlet-atlet lainnya.
Usai melihat latihan, akhirnya penyerahan plakat pun dilakukan. Hari itu, yang aku ingat, saking geroginya ketemu Bang Ahsan, aku nggak banyak melakukan sesuatu. Cuma
sesekali bantu bikin video, masang banner, dan minta foto sama Bang Ahsan.
Tentu saja sebagai bayar janji ke Gita. Dan dengan takut-takut meminta bantuan
Pimpinan Redaksi BOLA, Pak Kumis, buat motion aku bareng bang Ahsan.
Di foto itu, yang aku ingat sampai dengan sekarang, aku
cuma memperhatikan janggut Bang Ahsan yang ternyata beneran. Beneran
lebat (keinget kejadian nonton bareng temen-temen Kos Nabila yang seru banget).
Hahaha.
Press Conference ala
Bintang Lima
Tugas liputan BOLA,
beberapa ada yang tempatnya di Hotel. Dan ini pengalaman yang tak pernah bisa
aku lupakan juga. Soalnya, hotel yang dijadikan tempat liputan nggak main-main,
bintang lima, coy. Kayak Hotel The Sultan.
Gojek aja nggak boleh masuk ke parkiran depannya. Cuma mobil yang dibolehin.
Tidak hanya itu, narasumber yang aku wawancarai pun, kebanyakan orang-orang
penting. Dan yang paling utama yang nggak bakal aku lupa adalah suguhan yang
diberikan ke wartawan adalah sajian bintang lima. Yang rasanya….. tiada dua.
Begitulah,
pada akhirnya magang di BOLA adalah anugerah yang diberikan Allah kepadaku.
Sebuah anugerah yang pasti memberikan banyak sekali pelajaran hidup. Dari
pengalaman-pengalaman di BOLA, aku banyak mengerti arti menunggu, berjuang,
bertahan, dan tentu saja bersikap dewasa. Ya, selepas magang di
BOLA aku akan benar-benar hidup sebagai seseorang yang bertanggung jawab
terhadap diriku sendiri. Aku akan memulai hidupku dari nol lagi.
Selepas magang di BOLA, aku cuma mau
menyampaikan terima kasih tahun 2016. Tahun penuh kejutan, petualangan,
semangat, pengorbanan, dan kerja keras. Tak lupa juga, aku haturkan banyak
terima kasih untuk orang-orang yang berkaitan dengan magangku di BOLA. Terima
kasih diberikan kepada:
Keluarga
yang telah men-support aku dan mendukung semua pilihanku.
BP2M yang telah menjadi tempat
berjuang dan awal semua keinginananku untuk terjun ke dunia jurnalistik.
Kelompok 15 WRB, Elsa, Erlingga,
Azim, dan Sigit untuk pertemuan yang tak terduga dan kerja sama yang luar
biasa.
Segenap Kru Tabloid BOLA, khususnya
Mba Aprel (untuk bimbingan yang tiada lelah), Bang Dodi, Bang Doni, Mas Anggun,
Bang Heri, Mas Herka, Pak Kumis (pimpinan redaksi), Mas Sofa, Rian, Mba Ana,
dan Mba Meike.
Terakhir, untuk kawan yang ternyata
bertemu di Jakarta, Nadia dan Vina (terima kasih untuk perjalanan serunya di
Bogor), Mba Marfuah (terima kasih untuk jalan-jalan muterin Jakartanya
seharian), Opie (terima kasih untuk sesi curhatan yang luar biasa), dan Mba
Naya (untuk perjalanan ke Tebet dan sharing tentang kesehatan yang bikin aku
sadar kalau aku hidup dengan tidak benar selama ini).
Selesai.


hmmmmh....baca ini cukup nguras emosiku...tiba2 sedih, nyesek, tiba2 ketawa, tiba2 seneng terharu...
BalasHapuswaahhhh daebak! pengalaman yg keren! miss you sus...
Apakah tabloid bola buka lowongan magang tiap tahun?,dan syarat apa supaya bisa magang di tabloid bola?
BalasHapus